Hari ini :
You are not log in? >> Please Login

Review Honda Scoopy

Pertengahan 2010 saya mendengar akan diluncurkannnya Honda Scoopy. Bentuk dan Modelnya sudah saya intip di internet, karena sudah diedarkan terlebih dahulu di Thailand. Pertama mendengar kabarnya, saya sempat pesimis. YMKI saja, yang sering melakukan terobosan berani merakit Mio di Indonesia. Pada waktu itu proyek matik awal mereka Nouvo, bisa dianggap gagal. Tampaknya YMKI sendiri pesimis terhadap pasarnya di Indonesia, Yamaha Fino (mesin sama dengan Mio) yang berbentuk retro klasik sudah lama beredar di Thailand tidak mau membawa masuk ke Indonesia. Sehingga memilih main aman saja. Justru importir umumlah yang kemudian memasuki segmen ini. Yamaha Fino dijual seharga Rp. 20 jutaan, walaupun seharga motor sport 200cc tetapi ada beberapan kalangan yang tetap membelinya. Saya berpikir jika AHM memang “berani” merakit Scoopy di Indonesia. Inilah terobosan mode terbesarnya setelah membawa motor aneh, bebek sport CS1. Setelah tidak ada satupun pabrikan motor Jepang berani merakit satu modelpun motor bergaya retro klasik (kuno) di Indonesia.

Akhirnya Juli 2010, setelah inden sebegitu lama, saya berhasil membawa pulang si Scoopy. Kebetulan saya memang penggemar skuter, dari Yamaha, Suzuki, Sanex, sampai Vespa. Khusus Honda belum pernah terpikirkan untuk membelinya. Terus terang, model dari 2 kakak Scoopy baik Vario maupun Beat, tidak berhasil memancing selera kami. Ketika pertama kali sampai di rumah, yang saya perhatikan adalah detailnya. Saya merasa puas dengan perakitan dan pembuatannya. Baut, sambungan body, sampai sticker, diletakkan dengan presisi. Pengkabelan sangat rapi. Pemasangan ban sampai pemberian fat (pelumas padat) tidak serampangan. Semua terpasang dengan sebagaimana mestinya dan tanpa cacat baut maupun goresan body.

Saya memandangi bentuk bodynya. Pinggul yang tidak terlalu lebar, kurva body didominasi bentuk lengkung, dan grafis sangat mendukung penampilan retronya. Tampaknya semua sudah dipikirkan mendalam. Sehingga bentuk spion, jok, tuas panel, speedometer, dan lainnya memang mecerminkan skuter klasik. Hanya pada lampu depan dan belakang, kunci dan suspensi, tidak dapat menipu bentuk modernnya. Saya merasa ini adalah kesengajaan. Dalam sebuah motor retro tetap harus mengusung sesuatu bumbu modern. Bahkan lampu senja dari Scoopy berbentuk lampu projector ala mobil dan motor era 2010.

Menghidupkan mesin, saya mendengar bunyi halus disertai desingan. Starter tidak sekasar Vario, tetapi tetap tidak bisa dianggap halus. Autochoke yang menaikkan RPM mesin secara otomatis ketika mesin dingin, segera bekerja, mesin naik putaran otomatis, dan ketika suhu mesin sudah memadai, maka RPM mesin kembali ke posisi rendah, sekitar 1.500 RPM.

Menaiki motor ini, yang pertama saya rasakan adalah jok. Agak keras, tetapi lama-kelamaan saya terbiasa. Apalagi didukung shock yang lumayan empuk. Agak terlupakan kekerasan jok standardnya. Posisi tangan saya di kemudi cukup nyaman. Bukan tipe merunduk ataupun terlalu tinggi. Rake juga rapat, jadi mudah dibelokkan. Ringan. Dengan menurunkan jarak terdekat dengan tanah lebih rendar dari Beat, terasa kemudi jadi lebih stabil. Tidak seliar Beat. Tetapi tidak seberat Vario. Pendek kata pengendalian (subyektif saya) presisi, motor yang mau belok dimana kita mau belok, tanpa ngeloyor terlebih dahulu.

Di sektor mesin, walaupun sama dan sebangun dengan Beat, tampaknya ada perbedaan dalam konsumsi bahan bakar. Buktinya Motor Plus Award menobatkan Scoopy sebagai skutik ter-ekonimis dalam pemakaian bahan bakar pada tahun 2010. Jika dibandingkan merek lain. Jelas Scoopy dan Beat akan menjadi teririt. Hal ini dikarenakan torsi tertingginya cukup dihandle pada 5.500 RPM, sementara lawan sekelasnya di merek lain torsi tertinggi diperoleh di 7.000 RPM. Yang jelas, saya merasakan kekuatan mesin untuk membawa bobotnya yang 94 kg termasuk pengendara (saya 68kg) tidak sengsara. Ada beberapa motor matic kelas ini yang butuh meraung-raung dahulu untuk mencapai kecepatan tertentu. Pada Scooy, semua berjalan dengan sangat priyayi. Diam, hening, melaju. Sesuai dengan bentuk retro klasiknya.

Selagi melaju saya mecoba melirik speedometer, fuel meter, lampu-lampu, semua mudah dilihat. Tetapi ketika saya hendak menarik tuas sein, ternyata letaknnya tidak biasa. Tombol klakson di tengah, sein malah di paling bawah. Jadi sewaktu belum terbiasa, saya sering keliru memencet klakson ketika hendak mematikan sein. Spion bulat gaya tempoe doeloe ternyata cukup informatif. Berfungsi, tidak sekedar pajangan saja. Ketika saya mecoba membawanya sampai ke batas, ternyata mencapai kecepatan sekitar 105km/jam, dalam kondisi angin normal dan jalanan datar. Setelah hampir 1.000km saya lalui dengan Scoopy saya menganggap motor ini paling nyaman dan ekonomis jika dikendarai di kecepatan 60-80km/jam, konsumsi bahan bakarnya pun sangat irit bisa menembus angka 1:45. Lebih dari itu, getaran mesin dan guncangan jalan mulai membuat kesemutan di tangan jika dikendarai diatas 1jam.






Kesan saya setelah membawa si Scoopy sejauh kurang lebih 1.000km adalah:
POSITIF:
1. Motor yang menarik (Retro Classic). Mengingat selalu saja ada orang (terutama anak-anak) mengerumuni disekeliling Scoopy ketika diparkir.
2. Skuter matik yang lumayan ekonomis dalam harga beli maupun konsumsi bahan bakar (1:45).
3. Presisi, banyak kali saya melakukan manuver pengereman maupun pembelokan mendadak tetapi belum pernah dikecewakan oleh Scoopy.
4. Responsif, tidak terlalu berteriak-teriak mesinnya seperti skutik sekelasnya.
NEGATIF:
1. Bagasi sangat terbatas, hanya bisa bawa matel hujan dan kunci busi.
2. Jok lumayan keras.
3. Mini windshield/visor speedometer, suka bunyi sendiri, kurang jelas, walau pelan, tetapi kadang terasa menganggu.
4. Agak terlalu berat bobot kosongnya, jika dipakai wanita, seharusnya bisa seberat beat saja (89,3kg) atau malah lebih ringan lagi.

Selain itu? Tidak ada masalah, saya sangat menyukainya.

CATATAN:
Saya 100% tidak ada hubungan apapaun dengan AHM maupun AHASS. Motor yang saya review adalah milik pribadi dan bukan pinjaman dari pabrikan maupun dealer, supaya tidak ada distorsi kesan dan pesan dalam artikel ini.
Fitur-fitur lain, masih banyak dibawa oleh Scoopy, saya akan terangkan satu per satu melalui foto-foto dibawah ini:












About this entry

Posting Komentar

Silahkan berkomentar untuk entri artikel di blog Everything about Indonesian

 

About me | Author Contact | Powered By Blogspot | © Copyright  2008